KELAS BELAJAR MENULIS NUSANTARA (KBMN) PGRI
Gelombang Ke-32, Pertemuan Ke-6



                                                     Judul: Diksi dan Seni Bahasa

                                                     Narasumber: Maydearly

                                                    Moderator: Purbaniasita Purbaning Sedyo


Bismillahirrahmanirrahiim

Pertemuan keenam malam ini tentang diksi dan seni bahasa menjadi sangat penting bagi Saya. Sebagai bekal untuk menulis. Karena bukanlah orang bahasa, maksudnya belum pernah belajar khusus tentang bahasa. Bulan kuliah jurusan bahasa. Hanya punya keinginan untuk bisa menulis. 

Moderator membuka acara malam ini dengan syair berikut:

Gemericik air terasa syahdu 

Riak air memaksa hati tuk merindu

Ketika hati tak lagi bertalu,

 terasa senyap seluruh kalbu

Selanjutnya acara dimulai dengan perkenalan diri moderator, menyapa para peserta, kemudian dilanjutkan dengan berdo'a. Seperti biasa, kuliah malam ini dibagi menjadi 4 sesi:

1. Pembukaan

2. Pemaparan materi 

3. Tanya Jawab 

4. Penutup 

Moderator memperkenalkan narasumber kita malam ini yaitu Seorang ibu  guru cantik yang mendapat julukan Queen of Diction atau ratu diksi.  Beliau adalah bunda MAYDEARLY ynag mempunyai segudang prestasi.  Berikut adalah prestasi-prestasi yang telah beliau hasilkan 

1. Penulis 4 buku Solo, 1 buku duo, dan 1 buku trio, serta 15 buku Antologi 
2. Dewan Juri Tingkat Kabupaten
3. Narasumber Nasional
4. MC tingkat Kecamatan 
5. Moderator tingkat Nasional
6. Berbakat dalam seni Musik

Di ufuk senja ritme syahdu tegak berkumandang, sembari menengadah do'a aku ketukkan nada Assalamualaikum sebagai pembuka tatap maya pertemuan kita☺️
Selamat Malam, Tuan dan Nyonya di Sebrang ingatan. Izinkan malam ini  Saya menemani Tuan dan Nyonya lewat beranda Virtual, dengan gerak jemari menukik lembut, saling berpaut, meluncur lewat tari sang Emoji😍😍 sebagai tanda perkenalan dari Maydearly Sarangheo🫰🫰

Narasumber menyapa para peserta dengan Tuan dan Nyonya, terasa berbeda disapa seperti itu hehe. Diksi dan seninya sudah terasa dari awal. Selanjutnya narasumber memberikan sebuah puisi karyanya.

Tawanan Rindu
Created by: Maydearly

Kau tahu apa yang lebih menyedihkan?
Merinduimu di setiap keping nafas tanpa terbias
Aku merinduimu melebihi resep minum obat
Walau harus ku hitung  waktu lewat puluhan jari
Jawabanku masih tetap merinduimu

Tataplah, ada banyak rindu yang bertebaran di Langit
Petik lah satu demi satu sebagai ayat rinduku 
Langit itu kini tak lagi dingin,
Kabar darimu tak lagi mampir
Menawan batinku dengan berjuntai tanya dan hawatir

Biarkan aku menenggelamkan diri dalam kubangan rindu
Semangkuk harap ku persiapkan menuju kedatanganmu
Sebab, merinduimu adalah memupuk kalori semanis madu

Apakah DIKSI itu?

Menurut KBBI, diksi adalah pilihan kata yang tepat serta selaras dan bertujuan agar pembaca dapat memahami teks dalam  tulisan. Diksi lahir untuk memberikan ruh agar sebuah kata memiliki kepantasan yang lebih bermakna. Dengan Diksi, kita akan lebih merasakan warna dan rasa untuk setiap kalimat. 

Dahulu, sejarahwan Yunani bernama Aristoteles memperkenalkan Diksi untuk menulis puisi. Kini, Diksi berkembang pesat tidak hanya pada puisi tapi juga digunakan untuk memperindah bahasa sebagai padanan kata agar lebih terasa maknanya. Dalam konteks sastra atau tulisan kreatif, keindahan diksi sangat penting karena dapat mempengaruhi bagaimana pembaca merespons dan menghayati karya tersebut. 

Kata-kata yang dipilih dengan cermat tidak hanya memperkaya pengalaman membaca tetapi juga dapat mengekspresikan nuansa, emosi, atau gambaran dengan lebih mendalam.
Jadi, untuk mencapai keindahan diksi, penulis perlu memperhatikan konteks penggunaan kata-kata, pemilihan kosakata yang sesuai dengan nada atau suasana yang diinginkan, serta kemampuan untuk menggambarkan atau menggambarkan dengan cara yang unik dan menarik.


William Shakespeare dikenal dengan penggunaan diksi yang kaya dan puitis dalam karya-karyanya. Diksi merujuk pada pilihan kata-kata yang digunakan dalam tulisannya, dan Shakespeare terampil dalam memilih kata-kata yang tepat untuk menciptakan nuansa, gambaran, dan emosi yang mendalam dalam karya-karyanya seperti drama dan puisi.

Salah satu karya William Shakespeare yang terkenal adalah Romeo and Juliet: Karya ini memperlihatkan diksi yang romantis dan ekspresif, dengan dialog-dialog yang puitis antara kedua tokoh utama.

Siapakah yang Pandai Menggunakan Diksi?
Apa penyair saja yang pandai berdiksi yang pandai berdiksi? Apakah penulis pemula tak mampu berdiksi. Malam ini kita semua akan berupaya untuk pandai berdiksi. Menjadi tugas narasumber untuk mengajak para peserta agar pendai berdiksi.

Jurus Jitu dalam Mengembangkan Diksi yang Menarik
A.  Sense of touch atau indera sentuhan dapat berperan penting dalam mengembangkan diksi, terutama dalam menggambarkan atau menjelaskan pengalaman fisik atau emosional. Berikut adalah beberapa cara di mana sense of touch dapat membantu dalam pengembangan diksi:
1. Deskripsi Fisik: Menggunakan kata-kata yang merujuk pada sensasi fisik yang dirasakan oleh karakter atau objek dalam cerita. Misalnya, "rasa kasar batu yang menggores telapak tangan" atau "kelembutan bulu halus yang menyentuh pipi".
2. Ekspresi Emosi: Mendeskripsikan bagaimana indera sentuhan mempengaruhi suasana hati atau emosi seseorang. Contohnya, "rasa dingin membelai kulitnya membuatnya merasa kesepian" atau "kehangatan pelukan memenuhi hatinya dengan kedamaian"
3. .Nuansa dan Atmosfer: Menggunakan sensasi sentuhan untuk membangun nuansa atau atmosfer dalam sebuah setting. Misalnya, "angin sepoi-sepoi menyentuh kulit mereka dengan lembut di tepi pantai yang sunyi" atau "hujan deras yang membasahi bumi dengan kelembutan."
4. Metafora dan Personifikasi: Menggunakan sentuhan secara metaforis untuk menggambarkan pengalaman atau objek secara lebih mendalam. Contohnya, "sinar matahari merayap seperti jemari emas yang membelai tanah gersang" atau "suara angin di pepohonan menggelembung seperti suara tawa anak-anak yang bermain."

B. Sense of smell atau indera penciuman adalah elemen penting dalam berdiksi karena dapat menambah kedalaman dan kehidupan dalam deskripsi pengalaman atau suasana. Berikut adalah beberapa cara di mana sense of smell dapat digunakan dalam berdiksi:

1. Deskripsi Lingkungan: Menggunakan aroma untuk menggambarkan lokasi atau lingkungan dengan lebih jelas. Contohnya, "aroma bunga melati yang menyegarkan memenuhi udara di taman itu" atau "bau tanah basah setelah hujan turun sepanjang malam."

2. Karakterisasi: Menambahkan aroma untuk menggambarkan karakter atau suasana hati. Misalnya, "parfum mewah yang menguar dari lehernya menunjukkan keanggunan dan kepercayaan dirinya" atau "bau rokok dan alkohol yang menusuk hidung menggambarkan gaya hidupnya yang kasar."

3. Memori dan Emosi: Menggunakan aroma untuk memicu memori atau mengekspresikan emosi karakter. Contohnya, "aroma kue mangga yang manis membawa kenangan masa kecilnya yang bahagia" atau "bau bensin yang tajam memicu kecemasan dalam dirinya."

4. Metafora dan Simbolisme: Menggunakan aroma secara metaforis untuk menggambarkan suasana atau konsep. Misalnya, "bau kemarahan yang menyengat terasa di udara" atau "aroma kebohongan yang terasa menyengat di ruang rapat itu."

C.  Sense of taste, atau indera perasa, juga dapat digunakan dengan efektif dalam berdiksi untuk memperkaya pengalaman pembaca dengan sensasi-sensasi yang berkaitan dengan rasa. Berikut adalah beberapa cara di mana sense of taste dapat dimanfaatkan dalam berdiksi

1. Deskripsi Makanan dan Minuman: Menggunakan rasa untuk menggambarkan makanan atau minuman dengan lebih jelas. Contohnya, "rasa manis dari cokelat leleh mengalir di lidahnya" atau "rasa pedas dari sambal yang membara memenuhi seluruh mulutnya."

2. Ekspresi Emosi atau Perasaan: Menggunakan rasa untuk mengekspresikan emosi atau perasaan karakter. Misalnya, "rasa getir kecewa yang seperti pahit di ujung lidahnya" atau "rasa gembira yang segar seperti buah-buahan tropis yang manis."

D. Sense of Jurnalism

 merujuk pada cara penggunaan diksi yang khas dalam konteks jurnalisme untuk menyampaikan berita atau cerita dengan cara yang informatif, jelas, dan terkadang juga memikat.

E. Sense of hearing atau indera pendengaran dapat diterapkan secara efektif dalam berdiksi untuk menciptakan pengalaman auditori yang kuat dalam tulisan. Berikut beberapa cara menggunakan sense of hearing dalam berdiksi:

1. Deskripsi Suara: Menggunakan kata-kata untuk menggambarkan berbagai jenis suara dengan detail. Misalnya, "derap langkah kaki yang cepat di lorong yang sepi" atau "gemerisik daun kering yang disapu angin."

2. Atmosfer dan Nuansa: Suara dapat digunakan untuk membangun atmosfer atau nuansa tertentu dalam sebuah setting. Contohnya, "gemuruh petir yang menggetarkan jendela" untuk menciptakan ketegangan atau "suara riuh kerumunan yang memenuhi pasar pagi."

3. Ekspresi Emosi: Suara juga dapat mengekspresikan emosi atau perasaan. Misalnya, "senandung riang anak-anak yang bermain di halaman sekolah" atau "ratapan sedih yang terdengar di ruang tengah rumah duka."

4. Simbolisme dan Metafora: Suara dapat digunakan secara metaforis untuk menyampaikan makna yang lebih dalam. Contohnya, "suara jangkrik malam yang menyiratkan kesepian di hatinya" atau "nyanyian angin yang membawa berita baik."

 Diksi adalah tentang rasa, dan rasa adalah tentang indra. Apa yang kita lihat, kita dengar, kita sentuh, ketika kita jabarkan dalam sebuah kalimat yang menarik maka akan terlahir sebuah kata yang unik. Diksi adalah padanan kata dimana setiap kata memiliki sinonim. Ketika kita terbiasa menyebut kata "membaca" sesekali kita cari padanan dengan kata "merapal" terlihat keren bukan?

Apakah diksi hanya bertajuk puisi?

Jawabannya tentu tidak. Karena Diksi adalah kata pengganti yang bermakna sama, bisa dipakai pula untuk sebuah karya ilmiah. Ketika kita memahami Diksi, menulis Novel, menulis cerpen, atau bahkan buku ilmiah. Maka karya itu akan lebih bermakna.

Materi malam ini selesai dan narasumber memberikan tantangan kepada para peserta untuk membuat sebuah kalimat dari apa yang sekarang sedang di lihat di depan mata, dirasakan, disentuh, dan deskripsikan. 






Comments

Popular posts from this blog