KELAS BELAJAR MENULIS NUSANTARA (KBMN) PGRI
Gelombang Ke-32, Pertemuan Ke-7
Judul: Mengatasi Writer"s Block
Narasumber: Ditta Widya Utami
Moderator: Gina Dwi Septiani
Bismillahirrahmanirrahiim.
Materi yang akan disajikan oleh narasumber malam ini sangat penting dan menarik. Mengingat Saya sebagai penulis pemula sering mengalami hal ini. Moderator membuka acara dengan menyapa para peserta, memastikan kesiapan para peserta. Kemudian mengajak para peserta berdo'a. Selanjutnya kembali mengingatkan bahwa seperti biasa pertemuan dibagi menjadi empat bagian yaitu:
1. Pembukaan
2. Penyampaian materi
3. Sesi tanya jawab
4. Penutup
Narasumber kita malam ini mempunyai banyak prestasi, pengalaman dan karya tulis. Adapun CV lengkap beliau dapat kita simak pada link berikut https://s.id/cvdittawidyautami. Moderator mengucapkan terima kasih kepada Pak Wijaya Kusumah yang dikenal dengan Om Jay selaku penggagas dan pembina KBMN PGRI. Sebagaimana pesan Omjay, sungguh kita memiliki peran yg penting untuk turut menuntun generasi muda khususnya di negara kita. Terlebih di era digital seperti saat ini, kita juga perlu "mengisi" ruang-ruang digital (utamanya yg berkaitan dg tulis-menulis) dg hal-hal yang positif. Termasuk tentu yang paling sederhana adalah melalui status media sosial kita.
Seorang penulis atau orang yang belajar menjadi penulis. Terkadang kita menghadapi suatu kondisi yang membuat kita merasa 'terjebak'. Gak bisa maju melanjutkan tulisan. Tiba-tiba merasa blank. Hanya bisa diam meski jemari sudah di atas tuts dan mata sudah memandang laptop.
Sebelum memulai materi, narasumber meminta peserta untuk menuliskan satu dari beberapa tema yang diberikan Narasumber. Salah satunya tentang Deep Learning. Saya sendiri mengalami keterbatasan untuk menulis tema yang saya pilih. Setelah menulis tema yang dipilih peserta diminta untuk mengisi hal-hal yang dirasakan saat menulis dengan memilih beberapa pilihan diantaranya:
- Sulit fokus
- Sering berubah pikiran (karena ide yang terus berkembang)
- Merasa kurang bersemangat
- Terlalu sering mengoreksi (baik dari diksi, tanda baca, eyd)
- Kuatir tidak sesuai dengan pembaca
- Terlalu banyak tekanan (baik dari diri sendiri maupun dari luar) saat menulis
Disadari atau tidak, akan mudah menulis bagi kita, saat temanya memiliki keterkaitan dengan keseharian kita. Tentang hal-hal yang kita minati, dengan apa yang pernah kita dengar, lihat atau rasakan. Menulis sejatinya adalah kata kerja. Maka harus "aktif". Tak bisa kita bercita-cita jadi penulis, namun tidak menulis. Perlu upaya perlu berlatih.
Apakah Writer's Block itu?
Writer's Block dimaknai sebagai kondisi di mana seorang penulis mengalami kesulitan untuk memulai atau melanjutkan proses menulis. Istilah ini sudah ada sejak tahun 40-an sebetulnya. Dikenalkan oleh seorang ahli psikoanalisis (yang mempelajari pemikiran alam bawah sadar dan perilaku manusia), Edmund Bergler.
Dari kacamata psikologi, dalam sebuah studi dari Yale psychologists pada 1970 dan 80-an yang ditinjau kembali oleh New Yorker, writer’s block merupakan hal konkrit dan dapat diatasi penulis. Dua orang psikolog bernama Jerome Singer dan Michael Barrios melakukan penelitian mengenai fenomena writer’s block ini terhadap para penulis berlatar belakang yang berbeda, mulai dari penyair puisi hingga screen writer.
Mereka menemukan penulis yang mengalami writer’s block sedang merasa tidak bahagia. Agar lebih mudah memahaminya, kedua psikolog tersebut membagi empat dasar penyebab ketidakbahagiaan para penulis yang menjadi peserta studi mereka. (Deepublish). Keempat hal tersebut adalah:
1. Kecemasan
2. Pemarah
3. Apatis
4. Memiliki masalah dengan orang lain
Simpelnya, Writer's block memiliki keterkaitan dengan kondisi psikoligis seseorang. Menurut Penulis dan psikolog Susan Reynolds menyatakan bahwa writer’s block hanyalah sebuah mitos dan bukan kondisi psikologis sama sekali.
Walau begitu, Reynolds mengakui bahwa menulis adalah proses mental yang menantang. Apakah writer’s block merupakan masalah psikologis yang nyata atau hanya istilah yang diciptakan saat penulis menghadapi tantangan, ada banyak alasan penyebab masalah ini, misalnya:
1. Merasa takut (seperti takut bahwa karyanya tidak lebih baik dari orang lain)
2. Perfeksionis
3. Tekanan eksternal (contoh tuntutan untuk membuat tulisan)
Ibu Bapak mungkin ada yang pernah membaca karya Perahu Kertas, Aroma Karsa atau Supernova? Yup, penulisnya Dee Lestari. Beliau bahkan bilang kalau writer's block ini ada dua kondisi:
1. Kondisi akut seperti saat kita berjalan lalu tersandung batu kecil. Terkadang saat menulis, ada "masalah kecil" yang menghambat proses kreatif kita. Namun, hal ini masih bs diatasi dengan istirahat sejenak atau mengurai ide-ide.
2. Kondisi kronis (besar) dimana kita benar-benar terhalang oleh hal-hal besar saat menulis sehingga seperti tidak ada jalan keluar.
Siapakah yang Bisa Terkena Writer's Block?
Semua penulis bisa terkena writer's block. Entah itu penulis profesional atau pemula. Novelis, cerpenis, penulis puisi, jurnalis, script writer, ghost writer, siapa pun. Writer's Block juga bisa terjadi kapan dan dimana pun. Bisa di awal, tengah, maupun akhir kepenulisan. Bisa terjadi dalam waktu yang singkat, bahkan bisa pula bertahun-tahun.
Bagaimana cara mengatasi atau menghindarinya Writer's block?
Untuk menjawab hal ini Sebetulnya jawabannya ada pada diri penulis sendiri. Seperti saat kita sedang sakit lalu berobat. Bisa jadi satu resep cocok untuk satu pasien, tapi belum tentu akan cocok diterapkan pada pasien yang berbeda. Begitu pula dengan writer's block. Beda penyebab writer's blocknya, beda juga cara mengatasinya.
Nah, sekarang mari kita ingat kembali. Saat sedang merasa buntu, hal-hal apa yang sering kita lakukan? Saat banyak tekanan dari luar, sehingga membuat kita mandeg menulis, mungkin obatnya adalah istirahat sejenak. Jika penyebabnya kehabisan ide atau bingung, mungkin kita bisa membaca karya orang lain, melakukan diskusi atau aktivitas berbeda untuk mendapatkan inspirasi baru. Jika penyebab writer's blocknya adalah terlalu perfeksionis sehingga lebih banyak revisi yang membuat tulisan tidak selesai-selesai. Sesekali kita perlu melakukan free writing. Menulis bebas sekitar 5-10 menit tanpa memikirkan eyd, tanda baca, dll. Menulis saja dulu, yang penting nulis dan beres. Titik.
Jadi, kunci dalam menghadapi writer's block akan kembali kepada bagaimana penulis mengenali penyebab writer's block itu sendiri.
Selanjutnya para peserta diminta untuk memilih, hal yang mereka lakukan ketika menghadapi writer's block. Berikut ini beberapa pilihan:
- Istirahat sejenak
- Mencari suasana baru (misalnya terbiasa menulis di kamar, lalu mencoba menulis di kafe)
- Meminimkan Distraksi (misalnya mematikan televisi dan hanphone saat menulis)
- Membaca karya orang lain
- Melakukan diskusi
- Berolah raga
- Melakukan aktivitas selain menulis
- Mencoba free writing/menulis bebas
.jpeg)
Comments
Post a Comment